makalah tentang keutamaan ilmu dan mengamalkanya
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar belakang
Wajib bagi muslim mempelajari ilmu yang menjadi prasyarat untuk
menunaikan sesuatu yang menjadi kewajibannya. Dengan demikian wajib baginya
mempelajari ilmu mengenai jual beli bila berdagang. Wajib pula mempelajari ilmu
yang berhubungan dengan orang lain dan berbagai pekerjaan. Maka setiap orang
yang terjun pada suatu profesi harus mempelajari ilmu yang menghindarkannya
dari perbuatan haram di dalamnya. Kemudian setiap muslim wajib mempelajari ilmu
yang berkaitan dengan hati, seperti tawakkal (pasrah kepada Allah), inabah
(kembali kepala Allah), khauf (takut kepada murka Allah). dan rida.
Alangkah bahagianya menjadi seorang muslim, karena dengannyaAllah
akan menyelamakannya dari api neraka, namun alangkah bahagianya ketika seorang
muslim memiliki ilmu, maka Allah akan mengangkat derajatnya sebagaimana firman
Nya, dalam surat Almujadilah :11 di tegaskan :
يَٰٓأَيُّهَا
ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا قِيلَ لَكُمۡ تَفَسَّحُواْ فِي ٱلۡمَجَٰلِسِ
فَٱفۡسَحُواْ يَفۡسَحِ ٱللَّهُ لَكُمۡۖ وَإِذَا قِيلَ ٱنشُزُواْ فَٱنشُزُواْ
يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ
دَرَجَٰتٖۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٞ ١١
“Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu:
"Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah
akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah
kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang
beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa
derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”(QS. Almujadilah
:11).
Di samping al-Qur’an, hadits juga menguraikan mengenai perintah
agar manusia selalu melakukan pendidikan dan menuntut ilmu untuk mengembangkan
pengetahuannya. Banyak hadits yang menerangkan mengenai hal tersebut.
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana
bunyi dan penjelasan hadis tentang perintah menuntut ilmu?
2.
Apa
saja keutamaan belajar?
3.
Apa
saja keutamaan orang yang mengajarkan ilmunya?
4.
Bagaimana
bunyi dan penjelasan hadis tentang urgensi ilmu?
5.
Bagaimana
hukum menyembunyikan ilmu menurut hadis?
C.
Tujuan
1.
Untuk
mengetahui bunyi dan penjelasan hadis tentang perintah menuntut ilmu
2.
Untuk
mengetahui keutamaan belajar
3.
Untuk
mengetahui keutamaan mengajarkan ilmu
4.
Untuk
mengetahui urgensi ilmu
5.
Mengetahui
hukum menyembunyikan ilmu
BAB II
PEMBAHASAN
A.
PERINTAH
MENUNTUT ILMU
1.
Pengertian
ilmu
Secara bahasa العلم
(al-ilmu) adalah lawan dari الجهل (al-jahl atau
kebodohan, yaitu mengetahui sesuatu sesuai dengan keadaan yang sebenarnya,
dengan pengetahuan yang pasti.
Secara
istilah dijelaskan oleh sebagian ulama bwhwa ilmu adalah ma’rifah (pengetahuan)
sebagai lawan dari al-jahl(kebodohan). Menurut ulama lainya, ilmu adalah
sesuatu yang sudah jelas, sehingga tidak perlu untuk di berikan definisi atau
pengertian lagi.[1]
Ilmu adalah pengetahuan yang sudah
dikelompokkan, disistematisasi, dan diinterpretasikan sehingga menghasilkan
suatu kebenaran objektif serta sudah diuji kebenarannya secara ilmiah. [2]
2.
Hadis
perintah menuntut ilmu
عن ابْنُ مَسْعُودٍ قَالَ لِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-
:« تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ وَعَلِّمُوْهُ النَّاسَ ، تَعَلَّمُوا الْفَرَائِضَ
وَعَلِّمُوْهُ النَّاسَ ، تَعَلَّمُوا الْقُرْآنَ وَعَلِّمُوْهُ النَّاسَ ،
فَإِنِّى امْرُؤٌ مَقْبُوضٌ ، وَالْعِلْمُ سَيُنْتَقَصُ وَتَظْهَرُ الْفِتَنُ
حَتَّى يَخْتَلِفَ اثْنَانِ فِى فَرِيضَةٍ لاَ يَجِدَانِ أَحَداً يَفْصِلُ
بَيْنَهُمَا
Ibnu Mas’ud meriwayatkan, “Rasulullah shallallahu
alaihi wa sallam. berkata kepadaku ‘Tuntutlah ilmu pengetahuan dan ajarkanlah
kepada orang lain. Tuntutlah ilmu kewarisan dan ajarkanlah kepada orang lain. Pelajarilah Alquran dan ajarkanlah kepada orang
lain. Saya ini akan mati. Ilmu akan berkurang dan cobaan akan semakin banyak,
sehingga terjadi perbedaan pendapat antara dua orang tentang suatu
kewajiban, mereka tidak menemukan seorang pun yang dapat
menyelesaikannya.’[3]
3. Biografi perawi
Nama lengkapnya adalah Abdullah bin Mas’ud bin Ghafil al-Hudzali. Nama
julukannya “ Abu Abdirahman”. Ia sahabat ke enam yang paling dahulu masuk
islam. Ia hijrah ke Habasyah dua kali, dan mengikut semua peperangan bersama
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. Dalam perang Badar, Ia berhasil
membunuh Abu Jahal.
Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda” Ambilah al-Quran dari
empat orang: Abdullah, Salim (sahaya Abu Hudzaifah), Muadz bin Jabal dan Ubay
bin Ka’ab”. Menurut para ahli hadits, kalau disebutkan “Abdullah” saja, yang
dimaksudkan adalah Abdullah bin Mas’ud ini.
Ketikah menjadi Khalifah Umar mengangkatnya menjadi Hakim dan Pengurus kas
negara di kufah. Ia simbol bagi ketakwaan, kehati-hatian, dan kesucian diri.
Sanad paling shahih yang bersumber dari padanya ialah yang diriwayatkan
oleh Suyan ats-Tsauri, dari Mansyur bin al-Mu’tamir, dari Ibrahi, dari alqamah.
Sedangkan yang paling dlaif adalah yang diriwayatkan oleh Syuraik dari Abi
Fazarah dari Abu Said.
Ia meriwayatkan hadits dari Umar dan Sa’ad bin Mu’adz. Yang meriwayatkan
hadits darinya adalah Al-Abadillah (“Empat orang yang bernama Abdullah”), Anas
bin Malik, Jabir bin Abdullah, Abu Musa al-Asy’ari, Alqamah, Masruq, Syuraih
al-Qadli, dan beberapa yang lain. Jumlah hadits yang ia riwayatkan mencapai 848
hadits.
Beliau datang ke Medinah dan sakit disana kemudian wafat pada tahun 32 H
dan dimakamkan di Baqi, Utsman bin ‘Affan ikut menshalatkannya.[4]
4. Penjelasan hadis
Dalam hadis ini, ada tiga perintah belajar,
yaitu perintah mempelajari ‘al-‘ilm’, ‘al-faraid’ dan ‘al-Qur’an’.
Menurut Ibnu Mas’ud, ilmu yang dimaksud di sini adalah ilmu syariat dan segala
jenisnya. Al-Fara’id adalah ketentuan-ketentuan baik ketentuan Islam
secara umum maupun ketentuan tentang harta warisan. Mempelajari Alquran mencakup
menghafalya. Setelah dipelajari ajarkan pula kepada orang lain supaya lebih
sempurna. Beliau memerintahkan agar sahabat mempelajari ilmu karena beliau
sendiri adalah manusia seperti manusia pada umumnya. Pada suatu saat, beliau
akan wafat. Dengan adanya orang mempelajari ilmu, ilmu pengetahuan itu tidak
akan hilang.[5]
B. Keutamaan Belajar
1. Hadis keutamaan belajar
a. وَ ءَنْ أبِي هُرَيْرَه ردي الله ءنه أن رسو ل الله صل الله ءليه و سلم قال
: وَمَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْه ِءِلْماً,سَهَّلَ الله لَهُ بِهِ طَرِيْقاً
إلى الجنة
Dari abu
Hurairah radhiyallahu anhu , Rasulullah shallallahu alahi wa sallam
bersabda,”Siapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, Allah akan memudahkan jalan
menuju surga untuknya.”(HR Muslim)[6]
Penjelasan :
Hadis ini menunjukkan
keutamaan menuntut ilmu agama, dan Allah memudahkan bagi penuntut ilmu untuk
menempuh jalan ke surga.
b.
عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْ لَ اللّهِ صَلَّى
اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ
عِلْمًا سَهَّلَ اللّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى اْلجَنَّةِ وَإِنَّ اْلمَلإَكَةَ
لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًالِطَالِبِ اْلعِلْمِ وَإِنَّ طَالِبَ اْلعِلْمِ
يَسْتَغْفِرُلَهُ مَنْ فِي السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ حَتَّى اْلحِيْتَانِ فِي
اْلمَاءِ وَإِنَّ فَضْلَ اْلعِلْمِ عَلَى اْلعَاِبدِ كَفَضْلِ اْلقَمَرِعَلَى
سَاءِرِ اْلكَوَاكِبِ إِنَّ اْلعُلَمَاءَ هُمْ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ إِنَّ
اْلأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِيْنَارًا وَلَا دِرْهَمًا إِنَّمَا
وَرِّثُوْا اْلعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ
أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
“Dari Abi Darda dia berkata :”Aku mendengar Rasulullah shallallahu alahi wa sallam bersabda”:
“Barang siapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka mencari ilmu maka Allah
akan memudahkan baginya jalan menuju surga, dan sesungguhnya para malaikat membentangkan sayapnya karena ridla (rela)
terhadap orang yang mencari ilmu. Dan sesungguhnya orang yang mencari ilmu akan
memintakan bagi mereka siapa-siapa yang ada di langit dan di bumi bahkan
ikan-ikan yang ada di air. Dan sesungguhnya
eutamaan orang yang berilmu atas orang yang ahli ibadah seperti
keutamaan (cahaya) bulan purnama atas seluruh cahaya bintang. Sesungguhnya para
ulama itu adalah pewaris para Nabi, sesugguhnya para Nabi tidak mewariskan
dinar dan dirham, akan tetapi mereka
mewariskan ilmu, maka barang siapa yang mengambil bagian untuk mencari ilmu,
maka dia sudah mengambil bagian yang besar.” (H.R. Ahmad, Tirmidzi, Abu Dawud,
dan Ibnu Majjah).[7]
Kandungan hadis:
v Para malaikat akan memberikan perlindungan
kepada para pencari ilmu dengan cara meletakkan sayapnya sebagai bukti kerelaan
mereka terhadap apa yang dilakukan oleh para pencari ilmu.
v Aktivitas pencarian ilmu adalah aktivitas
yang sangat mulia, sehingga kepada para pencari ilmu semua makhluk Allah baik
yang ada di langit maupun di bumi bahkan ikan-ikan yang ada di dalam air akan
memberikan berbagai bantuan, mereka semua ikut mendoakan agar orang yang
mencari ilmu selalu mendapatkan ampunan dari Allah subhanahu wa Ta’ala
v Allah memberikan keuatamaan kepada para
pencari ilmu melebihi keutamaan yang diberikan kepada para ahli ibadah, ibarat
cahaya bulan purnama yang mampu mengalahkan cahaya seluruh bintang.
v Para ulama (orang yang berilmu dan selalu
menjadi pencari ilmu) adalah pewaris para Nabi, merekalah yang akan meneruskan
para nabi dalam menegakan kebenaran dan memerangi kezaliman dengan menyebarkan
ilmu yang diterimanya dari nabi kepada orang-orang yang ada di sekitarnya.
Semua nabi tidaklah mewariskan harta benda untuk umatnya melainkan mewariskan
ilmu untuk kemaslahatan ummatnya. Oleh karena itu siapapun yang berusaha
menuntut ilmu dan berhasil menguasainya, maka dia telah berhasil mendapatkan
bagian yang sangat besar sebagai modal untuk menghadap Allah Subhanahu wa
Ta’ala.
c. وءن أنس ردي الله ءنه قال: قال رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم: مَنْ
خَرَجَ فِي طَلَبِ العِلمِ كَانَ فِي سَبِيْلِ الله حَتَّ يَرْجِعَ
Dari Anas radhiallahu anhu, ia berkata: Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam bersaabda,”siapa pergi untuk menuntut ilmu maka ia
berada di jalan Allah hingga kembali.”(HR AT-Tirmidzi dan beliau
,mengatakan,”hadis hasan”.)
Penjelasan : Kesamaan antara penuntut ilmu dan
berjihad di jalan Allah adalah sama-sama menghidupka agama, menundukkan setan,
meletihkan jiwa, ,mengalahkan hawa nafsu dan kesenangan.
Al-Bukhari menyebutkan dalam bab pergi menuntut ilmu;
Jabir bin Abdullah melakukan perjalanan selama satu bukan untuk menemui
Abdullah bin Unais untuk mencari stau hadis. Al-Bukhari juga menyebutkan hadis
Ibnu Musa radhiallahu anhu untuk menemui Khidir.
Hadis ini menunjukkan kegigihan para sahabat untuk
mempelajari sunnah nabawiyah.
Ahmad ditanya,”Ada seseorang menuntut ilmu, apakah ia
harus mendampingi seseorang yang punya banyak ilmu, ataukah harus berkelana?
Ahmad menjawab,”Berkelana untuk menulis hadis-hadis dari ulama-ulama berbagai negeri,
menemui banyak orang dan berguru kepada mereka.[8]
2. Biografi perawi hadis
a. Abu Hurairah
Nama lengkap Abu
Hurairah r.a ialah Abdullah Ibnu Sarkh. Beliau lahir ke-
tahun 21 sebelum hijriah (Th. 602 M), dan wafat di madinah
pada tahun ke-59 H= 679 M. Sebelum memluk islam, beliau
bernama Abu Syams Ad Dausi At Tamini. Setelah memeluk Islam beliau
di beri nama oleh Nabi Abdurrahman atau Abdullah, dan Ibunya bernama
Maimunnah, yang memeluk islam berkat seruan Nabi. Tetapi para ahli
sejarah berbeda pendapat mengenai nama beliau. Ia berasal dari Bani Daus
Bin Adnan.
Abu Hurairah secara harfiah berarti penyayang anak
kucing. Rasullullah sendirilah yang menjulukinya “Abu Hurairah” ketika beliau
melihatnya membawa seekor anak kucing. Julukan dari Rasulullah Itu semata
karena kecintaan beliau kepadanya, sehingga jarang ada orang yang memanggilnya
dengan nama sebenarnya.
Abu Hurairah datang ke Madinah pada tahun khaibar
yakni pada bulan muharam tahun 7 H, lalu memeluk agama islam. Setelah beliau
memeluk islam beliau tetap beserta Nabi dan menjadi ketua jama’ah ahlus
suffah. Karena inilah beliau mendengar hadist dari Nabi.
Menurut penahqikan bagi ibnu Makhlad, oleh ibnu dausi.
Beliau meriwayatkan hadist sejumlah 5374 hadist, dari jumlah tersebut 325
hadist disepakati oleh Bukhari dan Muslim. Bukhari sendiri meriwayatkan 93
hadist dan Muslim sejumlah 189 hadist. Sanad yang paling sahih yang berpangkal
darinya adalah: Ibnu Syihab Az- zuhri, dari Sa’id bin al- musayyab, darinya
(dari Abu Hurairah) adapun yang paling dla’if adalah As-Sari bin Sulaiman, dari
Dawud bin Yazid al- Audi dari bapaknya (Yazid al-Audi) dari Abu Hurairah.
Abu hurairah meriwayatkan hadist dari Nabi sendiri dan
dari sahabi, diantaranya adalah Abu Bakar, Umar, al- Fadlel, ibnu Abas, ibnu
Abdul mutolib, Ubai ibnu Kaab Usamah ibnu Zaid dan Aisyah. Hadist- hadistnya
banyak diriwayatkan oleh sahabat dan tabi’in. diantara para sahabat adalah Ibnu
Abas, ibnu Umar, Anas Warsilah, ibnu Asqa’, Zabir ibnu Abdullah, al-Anshary.
Diantara para tabi’in besar adalah Marwa ibnu al-Hakam, Said ibnu al Musaiyab,
Urwah ibnu Zubair, Sulaiman al Asyja’y al aghr, Abu Muslim, dan masih banyak
tabiin lainnya. Al-Bukhari mengatakan bahwa hadist Abu Hurairah diriwayatkan
oleh 800 orang lebih. Kata imam Safi’i r.a bahwa Abu Hurairah adalah orang yang
paling hafizh diantara orang yang meriwayatkan hadist Nabi di masanya. Adakah
sejarah Abu Hurairah diungkapkannya:
“Ya Rosullulah saya mendengar dari tuan banyak hadist,
tetapi saya banyak lupa, lalu Rosullullah mendoakan dengan isyaratnya lalu
Rosullulah menjiduk dengan kedua tangannya, dan bersabda ikatlah! Kemudian abu
hurairah mengikatnya. Sejak itu saya tidak lupa sedikut pun.”
Inilah Abu Hurairuh seorang sahabat agung yang banyak
meriwayatkan hadist Rasullulah, tidak pernah mendustakan Rosullulah Shallallahu
alahi wa sallam . Maka ikutilah Abu Hurairah dan jangan anda dengar orang yang
memiliki keinginan untuk mencemoohkan Abu Hurairah.
Abu Hurairah lahir pada tahun 21 sebelum Hijriyah. pada masa Jahiliyah,
sebelum ia msuk Islam, namanya Abu Syamsi. ia Masuk Islam pada tahun ke-7
Hijriyah, ketika perang Khaibar sedang berkecamuk. Abu hurairah langsung terjun
ke dalam perang tersebut. setelah ia msuk Islam, Nabi shallallahu alaihi wa
sallam memberinya nama Abdurahman.
Abu Hurairah sangat menyenangi seekor kucing, sehingga sering kucing itu
digendong, dirawat, diberi makan dan bagi kucing itu disediakan tempat khusus.
maka beliau digelari pula dengan Abu Hurairah, yang artinya orang yang
menyanyangi kucing. Nama lengkap Beliau adalah Abu Hurairah bin Shakhkhar.
Ibunya adalah Maimunah, yang sempat masuk Islam sebelum wafatnya.
Abu Hurairah adalah seorang di antara Muhajirin yang miskin, Ia termasuk
salah seorang Ahlush Shuffah, yaitu sahabat yang tinggal di Madinah. Beliau
tidak punya rumah untuk tinggal, tidak punya tanah untuk bercocok tanam, tidak
punya barang dagangan untuk dijual. walaupun demikian beliau tegar dalam
menghadapi hudup dan sanggup menerima Shallallahu alahi wa sallam secara baik bahkan beliau orang yang paling
banyak menghafal dan meriwayatkan hadits-hadits Nabi Shallallahu alahi wa
sallam daripada sahabat-sahabat Nabi
yang lain. Para Perawi hadits banyak meriwayatkan hadits dari beliau.
Iman Syafi’i pernah
berkata: “Abu Hurairah adalah orang yang paling banyak menghafal hadits bila
dibandingi dengan perawi-perawi di masanya.”
Abu Hurairah adalah
seorang ahli ibadah, begitu juga istri dan anaknya. Mereka semua biasa bangun
pada malam hari secara bergiliran. Beliau bangun pada sepertiga malam kedua dan
kemudian anaknay pada seprtiga malam terakhirnya.
Pada masa Khalifah Umar bin Khatab beliau pernah diangkat menjadi gubernur
Bahrain. Beliau wafat pada tahun ke-59 Hijriyah dalam usia 78 tahun.
b. Abdulah Bin Mas’ud
Nama lengkapnya adalah Abdulah bin Mas’ud bin Ghafil bin Hamid al-Hadzaly,
tetapi terkenal dengan Ibnu Mas’ud saja.
Beliau termasuk sahabat yang tertua dan utama orang keenam masuk Islam dan sangat dekat dengan Rasullulah SAW. Pada masa remaja beliau pernah bekerja sebagai pengembala kambing milik ‘Uqbah bin Mu’ith. Pada waktu itulah Nabi SAW. berkata kepadanya: “Engkau akan menjadi orang terpelajar.
Beliau termasuk sahabat yang tertua dan utama orang keenam masuk Islam dan sangat dekat dengan Rasullulah SAW. Pada masa remaja beliau pernah bekerja sebagai pengembala kambing milik ‘Uqbah bin Mu’ith. Pada waktu itulah Nabi SAW. berkata kepadanya: “Engkau akan menjadi orang terpelajar.
Beliau hidup miskin, tak punya harta benda, badanya kecil dan kurus, serta
tidak berpangkat; kedudukan dan keduniannya jauh berada di bawah. Sebelum masuk
Islam beliau sangat takut berjalan dihadapan pemimpin Quarisy. Tetapi setelah
masuk Islam beliau sengaja tanpa rasa takut berjalan di hadapan pemuka-pemuka
Quarisy Yang berada di samping Ka’bah, dan mengumandangkan wahyu Ilahi
(ayat-ayat Al-Qur’an) di hadapan Mereka.
Kelebihan-kelebihan Abdullah bin Mas’ud diantaranya adalah beliau Hafal
Al-Qur’an 30 juz,
Ahli mengenai arti dan makna Al-Qur’an,Luas Ilmunya tentang fiqh,Telah mendapat izin dari Rasulullah Shallallahu alahi wa sallam untuk memasuki rumah beliau, siang ataupun malam, Kuat Ibadah dan penuh taqwa,Tidak suka memburu pangkat, mengejar kedudukan, serta memperbutkan kekuasaan dan kekayaanya dan beliau merupakan orang pertama yang mengumandangkan ayat Al-Qur’an didepan masyarakat Mekkah.
Ahli mengenai arti dan makna Al-Qur’an,Luas Ilmunya tentang fiqh,Telah mendapat izin dari Rasulullah Shallallahu alahi wa sallam untuk memasuki rumah beliau, siang ataupun malam, Kuat Ibadah dan penuh taqwa,Tidak suka memburu pangkat, mengejar kedudukan, serta memperbutkan kekuasaan dan kekayaanya dan beliau merupakan orang pertama yang mengumandangkan ayat Al-Qur’an didepan masyarakat Mekkah.
Pada masa Khalifah Umar beliau diangkat menjadi Qadhi(hakim) dan ketua Bait
Al-Maal(bagian perbendaharaan kaum muslimin) di kufah. banyak merwayatkan
hadits dalam kitab hadits Bukhari dan Muslimin serta kitab-kitab lainya. Beliau
wafat di Madinah pada tahun 32 H dan dimakamkan di pekuburan Baqi.
C. Keutamaan mengajar/ orang yang berilmu
مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ
كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ
شَىْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ
كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ
أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ
“Barangsiapa menjadi pelopor suatu amalan
kebaikan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya
ganjaran semisal ganjaran orang yang mengikutinya dan sedikitpun tidak akan
mengurangi ganjaran yang mereka peroleh. Sebaliknya, barangsiapa menjadi
pelopor suatu amalan kejelekan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan
dicatat baginya dosa semisal dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi
dosanya sedikit pun.” (HR. Muslim no. 1017)[9]
Kandungan hadis:
·
Ia akan mendapatkan
pahala semisal pahala orang yang ia ajarkan.
·
Orang yang mengajarkan
ilmu berarti telah melakukan amar ma’ruf nahi munkar, demi baiknya tatanan
masyarakat lewat saling menasehati.
·
Termasuk bentuk saling tolong
menolong dalam kebaikan dan takwa.
·
Akan membimbing dan
mewujudkan kehidupan bahagia pada tiap individu masyarakat dengan adanya adab
dan hukum Islam yang tersebar.[10]
D. Urgensi ilmu
1. Hadis urgensi ilmu
عن عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنه يقل : سمعت رسول الله صلّى
الله عليه وسلّم يقول : إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمِ انْتِزَاعًا
يَنْتَزِعُهُ مِنَ النَّاسِ , وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاء ,
حَتَّى إِذَا لَمْ يَتْرُكْ عَالِمًا , اِتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًاجُهَّالاً ,
فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ , فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
Dari Abdullah
bin Amru bin Al-Ash Radhiyallahu’anhu, dia berkata : Rasulullah
Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya Allah tidak mengangkat
ilmu dengan cara mencabutnya langsung dari (dada) manusia. Akan tetapi
diangkatnya ilmu dengan cara mewafatkan para Ulama. Sehingga apabila tidak
tersisa lagi orang alim (ulama), maka manusia akan menjadikan orang – orang bodoh
menjadi pemimpin (ulama) mereka. Ketika mereka (orang bodoh yang diangkat
menjadi ulama) ditanya, maka mereka berfatwa tanpa ilmu sehingga mereka sesat
dan menyesatkan.”[11]
Penjelasan :
Al-Bukhari menyebutkan
bagaimana ilmu di cabut.
Umar bin Abdul
Aziz mengirim surat kepada Abu Bakar bin Hazm;”Carilah hadis-hadis Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam, Lalu tulislah karena akau khawatir ilmu akan
menghilang dan ulama akan le nyap. Dan janganlah engkau menerima selain hadis
Rasululullah shallallahu alaihi wa sallam. Hendaklah mereka (ulama) menyebarkan
ilmu dan duduk untuk mengajari orang yang tidak tahu, karena ilmu tidak akan
binasa hingga ia disembunyikan.”Al-Bukhari selanjutnya menyebutkan hadis di
atas.
Al-Hafiz
menjelaskan,”Hadis ini mendorong untuk menghafalkan ilmu dan larangan
mengangkat orang-orang bodoh menjadi pemimpin.”
Hadis ini menunjukkan bahwa fatwa adalah kepemimpinan hakiki, dan
juga celaan orang yang memberi fatwa tanpa ilmu.
Al-Bukhari juga
menyebutkan; bab diangkatnya ilmu dan mneyebarnya kebodohan. Rabi’ah
berkata,”tidak patut bagi siapapun yang memiliki suatu ilmu untuk menyia-nyakan
dirinya.”Al-Bukhari selanjutnya menyebutkan hadis Anas; Ia berkata,Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam bersabda,’Sungguh, di antara tanda-tanda kiamat
adalah ilmu di angkat, kebodohan bertahan, khamar di minum dan perzinahan
tampak terang-terangan.’
Al-Hafiz
menjelaskan,”Maksud perkataan Rabi’ah adalah siaoa memiliki pemahaman dan
keahlian unuk belajar dan mengajarkan ilmu maka tidak sepatutnya membiarkan
diri(menganggur) dan tdak mengajarkan ilmu. Yang demikian itu agar tidak
menyebabkan di cabutnya ilmu.
Atau yang di
maksud adalah dorongan untuk menyebarkan ilmu pada ahlinya agar seseorang alim
tidak meninggal dunia sebelum itu, agar hal itu tidak menyebabkan tercabutnya
ilmu.
Atau yang
dimaksud adalah seorang alim seyogyanya memperkenalkan diri agar orang-orang
menimba ilmu darinya, agar ilmunya tidak hilang.
Ada juga yang
mengatakan, maksudnya adalah mengagungksn dan menghormati ilmu. Dengan begitu,
seorang alim tidak merendahkan diri dengan menjadikan ilmu sebagai sarana untuk
meraih dunia.
E. Larangan menyembunyikan ilmu
ءن أبي هريرة, قال: قال رسو ل الله صل الله
ءليه و سلم مَنْ سُئِلَ ءَنْ ءِلْمٍ فَكَتَمَهُ, الجَمَهُ الله بِلِجاَمٍ مِنْ نَا
رٍ يَوْمَلْقِيَامَه
Dari Abu Hurairah, dia berkata:Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang di tanya tentang suatu ilmu
lalu dia menyembunyikanya, maka Allah akan mencambuknya dengan cambuk dari api
neraka pada hari kiamat.”[12]
Penjelasan :
Ø Asy-Syaikh Ahmad Syaakir rahimahullah berkata :
“Ini merupakan
peringatan yang keras bagi orang yang menyembunyikan apa saja yang diturunkan
dengannya para Rasul, berupa ajaran dan petunjuk yang bermanfaat bagi hati,
setelah Allah ta’ala terangkan kepada
hamba-hamba-Nya sebagaimana tercantum dalam kitab-kitab yang diturunkan kepada
para rasul-Nya. Abul-‘Aaliyyah berkata :
‘Ayat ini diturunkan kepada Ahli Kitab yang menyembunyikan sifat Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian
Allah pun mengkhabarkan bahwasanya mereka dilaknat oleh segala sesuatu atas
perbuatan yang mereka lakukan. Sebagaimana para ulama dimintakan ampun oleh
segala sesuatu termasuk ikan yang di air dan burung yang terbang di udara; maka
keadaan mereka kebalikan dari para ulama tersebut – yang Allah melaknatnya dan
segala sesuatu yang bisa melaknat pun melaknatnya…… Dan dalam ayat ini juga
diterangkan bahwasannya orang yang menyembunyikan ilmu akan dilaknat oleh
Allah, para malaikat, dan seluruh manusia. Kemudian Allah ta’ala mengecualikan dari mereka siapa saja yang bertaubat kepada-Nya.
Allah berfirman : ‘kecuali mereka yang
telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran)’ ; yaitu
mereka kembali pada kebenaran, memperbaiki amal-amal mereka, serta menerangkan
kepada manusia tentang apa yang telah mereka sembunyikan sebelumnya. Firman
Allah : ‘maka terhadap mereka itu Aku
menerima taubatnya dan Akulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang’
– dalam ayat ini terdapat pentunjuk bahwa orang yang mengajak pada kekufuran
dan kebid’ahan apabila bertaubat kepada Allah, maka Dia akan menerima
taubatnya.[13]
Dari Abu Hurairah, ia berkata :
“Orang-orang berkata : ‘Abu Hurairah terlalu banyak meriwayatkan hadits’. Jika
saja bukan karena dua ayat dalam Kitabullah, niscaya aku tidak akan
meriwayatkan hadits”. Kemudian ia (Abu Hurairah) membaca firman Allah : ‘Sesungguhnya orang-orang yang
menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang
jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab,
mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat
melaknati, kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan
menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itu Aku menerima tobatnya dan
Akulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang’ (QS. Al-Baqarah :
159-160)…..” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 118].
Ø Al-Haafidh Ibnu Hajar rahimahullah saat mengomentari hadits di atas berkata:
“Dan
makna dari perkataan ‘jika saja bukan
karena dua ayat’ adalah : Jikalau bukan karena Allah mencela orang-orang
yang menyembunyikan ilmu, aku tidak akan meriwayatkan hadits sama sekali. Namun
karena menyembunyikan ilmu itu adalah diharamkan dan harus disampaikan, maka ia
pun banyak meriwayatkan karena banyak hadits yang ia miliki”[14]
Ø Al-Munawiy rahimahullah berkata :
“Hadits tersebut berisi sanksi hukum atas
sebuah dosa, karena Allah subhaanahu wa
ta’ala telah mengambil perjanjian terhadap kaum yang diberikan Al-Kitab
(Ahli Kitab) agar menerangkannya kepada manusia dan tidak menyembunyikannya.
Padanya juga terdapat anjuran untuk mengajarkan ilmu, sebab menuntut ilmu
bertujuan untuk menyebarkannya dan mengajak manusia kepada kebenaran. Adapun
orang yang menyembunyikan ilmu pada hakekatnya telah membatalkan hikmah ini. Ia
sangat jauh dari sifat bijaksana dan mutqin
(kokoh dalam ilmu). Oleh karena itu, balasan baginya adalah dikekang
sebagaimana hewan kekangan yang dipaksa dan dicegah dari apa yang
dikehendakinya. Sesungguhnya kedudukan seorang ‘aalim (ulama) adalah mengajak manusia kepada kebenaran dan
membimbing mereka kepada jalan yang lurus”.[15]
Ø Al-Khaththaabiy rahimahullah berkata :
“Ini berlaku
pada ilmu yang harus diajarkan kepada orang lain yang hukumnya fardlu ‘ain. Seperti halnya seorang yang
melihat orang kafir yang ingin masuk Islam dan berkata : ‘Ajarkanlah aku, apa
itu Islam ?’. Juga seperti orang yang baru saja masuk Islam yang tidak bagus
shalatnya. Saat waktu shalat tiba, ia berkata : ‘Ajarkanlah aku, bagaimana aku
melakukan shalat’. Juga seperti seseorang yang datang meminta fatwa dalam
perkara halal dan haram. Ia berkata : ‘Berikanlah aku fatwa dan bimbinglah
aku’. Barangsiapa yang menemui perkara-perkara seperti ini, hendaklah ia tidak
menahan jawaban. Barangsiapa yang menahan jawaban, maka ia berdosa dan layak
mendapatkan ancaman. Namun tidak demikian halnya dalam perkara ilmu yang
disunnahkan dimana manusia tidak wajib mengetahuinya (yaitu tidak wajib memberi
jawaban).[16]
Ø Asy-Syaikh Ahmad Syaakir rahimahullah berkata :
“Menyampaikan
ilmu adalah wajib, tidak diperbolehkan untuk menyembunyikannya. Akan tetapi hal
itu dikhususkan bagi ahlinya (benar-benar menguasainya), dan diperbolehkan
orang yang belum menguasai atau sering keliru untuk menyembunyikannya.
Sebagian ulama pernah ditanya tentang satu
perkara ilmu, namun ia tidak menjawabnya. Maka orang yang bertanya itu berkata
: ‘Bukankah engkau telah mendengar hadits : ‘Barangsiapa
yang mengetahui satu ilmu namun menyembunyikannya, niscaya ia akan diikat
dengan tali kekang dari api neraka di hari kiamat kelak’ ?’. Maka ulama
tersebut menjawab : ‘Tinggalkanlah tali kekang dan pergilah !. Apabila ada
orang yang mengetahui ilmu ini dan kemudian aku menyembunyikannya, maka ikatlah
aku dengan tali kekang ini.[17]
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Secara bahasa العلم
(al-ilmu) adalah lawan dari الجهل (al-jahl atau
kebodohan, yaitu mengetahui sesuatu sesuai dengan keadaan yang sebenarnya,
dengan pengetahuan yang pasti.
Ilmu adalah
pengetahuan yang sudah dikelompokkan, disistematisasi, dan diinterpretasikan
sehingga menghasilkan suatu kebenaran objektif serta sudah diuji kebenarannya
secara ilmiah.
Adapun keutamaan
menuntut ilmu adalah sebagaimana yang di jelaskan dalam hadis yang diriwayatkan
oleh Ibnu Mas’ud :
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.
berkata kepadaku ‘Tuntutlah ilmu pengetahuan dan ajarkanlah kepada orang lain.
Tuntutlah ilmu kewarisan dan ajarkanlah kepada orang lain. Pelajarilah Alquran dan ajarkanlah kepada orang
lain. Saya ini akan mati. Ilmu akan berkurang dan cobaan akan semakin banyak,
sehingga terjadi perbedaan pendapat antara dua orang tentang suatu
kewajiban, mereka tidak menemukan seorang pun yang dapat
menyelesaikannya.
Allah memberikan kepada para pencari ilmu melebihi keutamaan yang
diberikan kepada para ahli ibadah, ibarat cahaya bulan purnama yang mampu
mengalahkan cahaya seluruh bintang.
Orang yang mengajarkan ilmu kepada orang
lain maka ia akan mendapatkan pahala semisal pahala orang yang
ia ajarkan dan juga Orang yang mengajarkan ilmu berarti telah melakukan amar ma’ruf
nahi munkar, demi baiknya tatanan masyarakat lewat saling menasehati.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Qadir
Jawas bin Yazid , 2007,Menuntut imu jalan menuju surga,Bogo:Pustaka
At-Taqwa
http://www.pengertianahli.com. Di
akses tanggal 19 februari 2018
Al-Daruquthni Sunan, 1966,Ad-Daruquthni juz 9, Beirut: Dar al-Makrifah
An-Nawawi,terj.Abdul Aziz bin Faisal, 2017,Riyadhus
Shalihin dan penjelasanya,Jakarta:Ummul Qura
Al Fauzan Abdullah, 1432 H,Minhatul ‘Allam fii
Syarh Bulughil Marom, Dar Ibnul Jauzi
https://rumaysho.com/9641-keutamaan-mengajarkan-ilmu.html(di akses tgl 20 februari 2018)
Nashiruddin Muhammad
Al-Albani, 2006,Shahih Sunan Abu Dawud,Jakarta:Pustaka Azzam
[1]
Yazid bin Abdul Qadir Jawas,Menuntut imu jalan menuju surga,(Bogor,Pustaka
At-Taqwa,2007),hlm.15
[3]
Al-Imam Abi Muhammad Abdullah ibn Bahram Al-Darimi (selanjutnya disebut
Al-Darimiy), Sunan ad-Darimi, jilid 1, (Beirut: Dar al-Fikr, t.th.), h.
252. Hadis dengan maksud yang sama juga diriwayatkan
Ad-Daruqutni dari Abi Sa’id. Lihat, Ali ibn Umar Abu al-Hasan ad-Daruquthni
al-Baghdadi (selanjutnya disebut Al-Daruqutni), Sunan Al-Daruquthni, juz
9, (Beirut: Dar al-Makrifah, 1386 = 1966), h. 421 dan Baihaqi dari Abdullah.
Lihat, Abu Bakr Ahmad ibn al-Husain al-Bayhaqi, (slanjutnya disebut al-Bayhaqi
Sya'b) Sya’b al-Iman, Juz 2, (Beirut: Dar –Kutub al-‘Ilmiyah,
1410) cet. ke-1 h. 253
[4] Biografi
Ibn Mas’ud dalam Al-Ishabah: Ibn Hajar Asqalani no.4945
[5] Lihat, Al-Mala ‘ala al-Qari’, Mirqat
al-Mafatih Syarh misykat al-Mashabih, juz 2, h. 199, dalam al-Maktabah
al-Syamilah bagian kitab-kitab syarah
[6]
Imam An-Nawawi,Riyadhus Shalihin dan penjelasanya,(Jakarta:Ummul
Qura,2017),hlm.804
[7]
Imam An-Nawawi,Riyadhus Shalihin dan penjelasanya,(Jakarta:Ummul
Qura,2017),hlm.807
[8]
Imam An-Nawawi,Riyadhus Shalihin dan penjelasanya,(Jakarta:Ummul
Qura,2017),hlm.806
[9] Minhatul
‘Allam fii Syarh Bulughil Marom, Syaikh ‘Abdullah Al Fauzan,
terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1432 H, 10: 129-130.
[11]
Imam An-Nawawi,Riyadhus Shalihin dan penjelasanya,(Jakarta:Ummul
Qura,2017),hlm.809
[12]
Muhammad Nashiruddin Al-Albani,Shahih Sunan Abu Dawud,(Jakarta:Pustaka
Azzam,2006),hlm.660
[16] Syarhus-Sunnah oleh Al-Baghawiy, 1/302, tahqiq Syu’aib Al-Arna’uth
& Muhammad Zuhair Syaawisy; Al-Maktab Al-Islaamiy, Cet. 2/1403 H
Komentar
Posting Komentar