makalah tentang keutamaan ilmu dan mengamalkanya



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Wajib bagi muslim mempelajari ilmu yang menjadi prasyarat untuk menunaikan sesuatu yang menjadi kewajibannya. Dengan demikian wajib baginya mempelajari ilmu mengenai jual beli bila berdagang. Wajib pula mempelajari ilmu yang berhubungan dengan orang lain dan berbagai pekerjaan. Maka setiap orang yang terjun pada suatu profesi harus mempelajari ilmu yang menghindarkannya dari perbuatan haram di dalamnya. Kemudian setiap muslim wajib mempelajari ilmu yang berkaitan dengan hati, seperti tawakkal (pasrah kepada Allah), inabah (kembali kepala Allah), khauf (takut kepada murka Allah). dan rida.
Alangkah bahagianya menjadi seorang muslim, karena dengannyaAllah akan menyelamakannya dari api neraka, namun alangkah bahagianya ketika seorang muslim memiliki ilmu,  maka Allah  akan mengangkat derajatnya sebagaimana firman Nya, dalam surat Almujadilah :11 di tegaskan :
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا قِيلَ لَكُمۡ تَفَسَّحُواْ فِي ٱلۡمَجَٰلِسِ فَٱفۡسَحُواْ يَفۡسَحِ ٱللَّهُ لَكُمۡۖ وَإِذَا قِيلَ ٱنشُزُواْ فَٱنشُزُواْ يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَٰتٖۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٞ ١١
“Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”(QS. Almujadilah :11).
Di samping al-Qur’an, hadits juga menguraikan mengenai perintah agar manusia selalu melakukan pendidikan dan menuntut ilmu untuk mengembangkan pengetahuannya. Banyak hadits yang menerangkan mengenai hal tersebut.
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana bunyi dan penjelasan hadis tentang perintah menuntut ilmu?
2.      Apa saja keutamaan belajar?
3.      Apa saja keutamaan orang yang mengajarkan ilmunya?
4.      Bagaimana bunyi dan penjelasan hadis tentang urgensi ilmu?
5.      Bagaimana hukum menyembunyikan ilmu menurut hadis?
C.    Tujuan
1.      Untuk mengetahui bunyi dan penjelasan hadis tentang perintah menuntut ilmu
2.      Untuk mengetahui keutamaan belajar
3.      Untuk mengetahui keutamaan mengajarkan ilmu
4.      Untuk mengetahui urgensi ilmu
5.      Mengetahui hukum menyembunyikan ilmu



















BAB II
PEMBAHASAN

A.    PERINTAH MENUNTUT ILMU
1.      Pengertian ilmu
Secara bahasa العلم (al-ilmu) adalah lawan dari الجهل (al-jahl atau kebodohan, yaitu mengetahui sesuatu sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, dengan pengetahuan yang pasti.
Secara istilah dijelaskan oleh sebagian ulama bwhwa ilmu adalah ma’rifah (pengetahuan) sebagai lawan dari al-jahl(kebodohan). Menurut ulama lainya, ilmu adalah sesuatu yang sudah jelas, sehingga tidak perlu untuk di berikan definisi atau pengertian lagi.[1]
Ilmu adalah pengetahuan yang sudah dikelompokkan, disistematisasi, dan diinterpretasikan sehingga menghasilkan suatu kebenaran objektif serta sudah diuji kebenarannya secara ilmiah. [2]
2.      Hadis perintah menuntut ilmu

عن ابْنُ مَسْعُودٍ قَالَ لِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- :« تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ وَعَلِّمُوْهُ النَّاسَ ، تَعَلَّمُوا الْفَرَائِضَ وَعَلِّمُوْهُ النَّاسَ ، تَعَلَّمُوا الْقُرْآنَ وَعَلِّمُوْهُ النَّاسَ ، فَإِنِّى امْرُؤٌ مَقْبُوضٌ ، وَالْعِلْمُ سَيُنْتَقَصُ وَتَظْهَرُ الْفِتَنُ حَتَّى يَخْتَلِفَ اثْنَانِ فِى فَرِيضَةٍ لاَ يَجِدَانِ أَحَداً يَفْصِلُ بَيْنَهُمَا

Ibnu Mas’ud meriwayatkan, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. berkata kepadaku ‘Tuntutlah ilmu pengetahuan dan ajarkanlah kepada orang lain. Tuntutlah ilmu kewarisan dan ajarkanlah kepada orang lain. Pelajarilah Alquran dan ajarkanlah kepada orang lain. Saya ini akan mati. Ilmu akan berkurang dan cobaan akan semakin banyak, sehingga terjadi perbedaan pendapat antara dua orang tentang suatu kewajiban,  mereka tidak menemukan seorang pun yang dapat menyelesaikannya.’[3]
3.      Biografi perawi
Nama lengkapnya adalah Abdullah bin Mas’ud bin Ghafil al-Hudzali. Nama julukannya “ Abu Abdirahman”. Ia sahabat ke enam yang paling dahulu masuk islam. Ia hijrah ke Habasyah dua kali, dan mengikut semua peperangan bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. Dalam perang Badar, Ia berhasil membunuh Abu Jahal.
Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda” Ambilah al-Quran dari empat orang: Abdullah, Salim (sahaya Abu Hudzaifah), Muadz bin Jabal dan Ubay bin Ka’ab”. Menurut para ahli hadits, kalau disebutkan “Abdullah” saja, yang dimaksudkan adalah Abdullah bin Mas’ud ini.
Ketikah menjadi Khalifah Umar mengangkatnya menjadi Hakim dan Pengurus kas negara di kufah. Ia simbol bagi ketakwaan, kehati-hatian, dan kesucian diri.
Sanad paling shahih yang bersumber dari padanya ialah yang diriwayatkan oleh Suyan ats-Tsauri, dari Mansyur bin al-Mu’tamir, dari Ibrahi, dari alqamah. Sedangkan yang paling dlaif adalah yang diriwayatkan oleh Syuraik dari Abi Fazarah dari Abu Said.
Ia meriwayatkan hadits dari Umar dan Sa’ad bin Mu’adz. Yang meriwayatkan hadits darinya adalah Al-Abadillah (“Empat orang yang bernama Abdullah”), Anas bin Malik, Jabir bin Abdullah, Abu Musa al-Asy’ari, Alqamah, Masruq, Syuraih al-Qadli, dan beberapa yang lain. Jumlah hadits yang ia riwayatkan mencapai 848 hadits.
Beliau datang ke Medinah dan sakit disana kemudian wafat pada tahun 32 H dan dimakamkan di Baqi, Utsman bin ‘Affan ikut menshalatkannya.[4]

4.      Penjelasan hadis
Dalam hadis ini, ada tiga perintah belajar, yaitu perintah mempelajari ‘al-‘ilm’, ‘al-faraid’ dan ‘al-Qur’an’. Menurut Ibnu Mas’ud, ilmu yang dimaksud di sini adalah ilmu syariat dan segala jenisnya. Al-Fara’id adalah ketentuan-ketentuan baik ketentuan Islam secara umum maupun ketentuan tentang harta warisan. Mempelajari Alquran mencakup menghafalya. Setelah dipelajari ajarkan pula kepada orang lain supaya lebih sempurna. Beliau memerintahkan agar sahabat mempelajari ilmu karena beliau sendiri adalah manusia seperti manusia pada umumnya. Pada suatu saat, beliau akan wafat. Dengan adanya orang mempelajari ilmu, ilmu pengetahuan itu tidak akan hilang.[5]
B.     Keutamaan Belajar
1.      Hadis keutamaan belajar
a.       وَ ءَنْ أبِي هُرَيْرَه ردي الله ءنه أن رسو ل الله صل الله ءليه و سلم قال : وَمَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْه ِءِلْماً,سَهَّلَ الله لَهُ بِهِ طَرِيْقاً إلى الجنة

Dari abu Hurairah radhiyallahu anhu , Rasulullah shallallahu alahi wa sallam bersabda,”Siapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, Allah akan memudahkan jalan menuju surga untuknya.”(HR Muslim)[6]
Penjelasan :
 Hadis ini menunjukkan keutamaan menuntut ilmu agama, dan Allah memudahkan bagi penuntut ilmu untuk menempuh jalan ke surga.
b.      عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْ لَ اللّهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى اْلجَنَّةِ وَإِنَّ اْلمَلإَكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًالِطَالِبِ اْلعِلْمِ وَإِنَّ طَالِبَ اْلعِلْمِ يَسْتَغْفِرُلَهُ مَنْ فِي السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ حَتَّى اْلحِيْتَانِ فِي اْلمَاءِ وَإِنَّ فَضْلَ اْلعِلْمِ عَلَى اْلعَاِبدِ كَفَضْلِ اْلقَمَرِعَلَى سَاءِرِ اْلكَوَاكِبِ إِنَّ اْلعُلَمَاءَ هُمْ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ إِنَّ اْلأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِيْنَارًا وَلَا دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرِّثُوْا  اْلعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
“Dari Abi Darda dia berkata :”Aku mendengar Rasulullah shallallahu alahi wa sallam  bersabda”: “Barang siapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka mencari ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga, dan sesungguhnya para malaikat  membentangkan sayapnya karena ridla (rela) terhadap orang yang mencari ilmu. Dan sesungguhnya orang yang mencari ilmu akan memintakan bagi mereka siapa-siapa yang ada di langit dan di bumi bahkan ikan-ikan yang ada di air. Dan sesungguhnya  eutamaan orang yang berilmu atas orang yang ahli ibadah seperti keutamaan (cahaya) bulan purnama atas seluruh cahaya bintang. Sesungguhnya para ulama itu adalah pewaris para Nabi, sesugguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, akan  tetapi mereka mewariskan ilmu, maka barang siapa yang mengambil bagian untuk mencari ilmu, maka dia sudah mengambil bagian yang besar.” (H.R. Ahmad, Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ibnu Majjah).[7]
Kandungan hadis:
v  Para malaikat akan memberikan perlindungan kepada para pencari ilmu dengan cara meletakkan sayapnya sebagai bukti kerelaan mereka terhadap apa yang dilakukan oleh para pencari ilmu.
v  Aktivitas pencarian ilmu adalah aktivitas yang sangat mulia, sehingga kepada para pencari ilmu semua makhluk Allah baik yang ada di langit maupun di bumi bahkan ikan-ikan yang ada di dalam air akan memberikan berbagai bantuan, mereka semua ikut mendoakan agar orang yang mencari ilmu selalu mendapatkan ampunan dari Allah subhanahu wa Ta’ala
v  Allah memberikan keuatamaan kepada para pencari ilmu melebihi keutamaan yang diberikan kepada para ahli ibadah, ibarat cahaya bulan purnama yang mampu mengalahkan cahaya seluruh bintang.
v  Para ulama (orang yang berilmu dan selalu menjadi pencari ilmu) adalah pewaris para Nabi, merekalah yang akan meneruskan para nabi dalam menegakan kebenaran dan memerangi kezaliman dengan menyebarkan ilmu yang diterimanya dari nabi kepada orang-orang yang ada di sekitarnya. Semua nabi tidaklah mewariskan harta benda untuk umatnya melainkan mewariskan ilmu untuk kemaslahatan ummatnya. Oleh karena itu siapapun yang berusaha menuntut ilmu dan berhasil menguasainya, maka dia telah berhasil mendapatkan bagian yang sangat besar sebagai modal untuk menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala.
c.       وءن أنس ردي الله ءنه قال: قال رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم: مَنْ خَرَجَ فِي طَلَبِ العِلمِ كَانَ فِي سَبِيْلِ الله حَتَّ يَرْجِعَ
Dari Anas radhiallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersaabda,”siapa pergi untuk menuntut ilmu maka ia berada di jalan Allah hingga kembali.”(HR AT-Tirmidzi dan beliau ,mengatakan,”hadis hasan”.)
Penjelasan : Kesamaan antara penuntut ilmu dan berjihad di jalan Allah adalah sama-sama menghidupka agama, menundukkan setan, meletihkan jiwa, ,mengalahkan hawa nafsu dan kesenangan.
Al-Bukhari menyebutkan dalam bab pergi menuntut ilmu; Jabir bin Abdullah melakukan perjalanan selama satu bukan untuk menemui Abdullah bin Unais untuk mencari stau hadis. Al-Bukhari juga menyebutkan hadis Ibnu Musa radhiallahu anhu untuk menemui Khidir.
Hadis ini menunjukkan kegigihan para sahabat untuk mempelajari sunnah nabawiyah.
Ahmad ditanya,”Ada seseorang menuntut ilmu, apakah ia harus mendampingi seseorang yang punya banyak ilmu, ataukah harus berkelana? Ahmad menjawab,”Berkelana untuk menulis hadis-hadis dari ulama-ulama berbagai negeri, menemui banyak orang dan berguru kepada mereka.[8]
2.      Biografi perawi hadis
a.       Abu Hurairah
Nama  lengkap Abu Hurairah r.a ialah  Abdullah Ibnu Sarkh. Beliau lahir  ke- tahun  21 sebelum hijriah (Th. 602 M),  dan wafat di madinah  pada tahun  ke-59 H= 679 M. Sebelum memluk  islam,  beliau bernama Abu Syams Ad Dausi At Tamini. Setelah memeluk Islam  beliau  di beri nama  oleh Nabi Abdurrahman atau Abdullah, dan Ibunya bernama Maimunnah,  yang memeluk islam berkat seruan Nabi. Tetapi para ahli sejarah  berbeda pendapat mengenai nama beliau. Ia berasal dari Bani Daus Bin Adnan.
Abu Hurairah secara harfiah berarti penyayang anak kucing. Rasullullah sendirilah yang menjulukinya “Abu Hurairah” ketika beliau melihatnya membawa seekor anak kucing. Julukan dari Rasulullah Itu semata karena kecintaan beliau kepadanya, sehingga jarang ada orang yang memanggilnya dengan nama sebenarnya.
Abu Hurairah datang ke Madinah pada tahun khaibar yakni pada bulan muharam tahun 7 H, lalu memeluk agama islam. Setelah beliau memeluk islam beliau tetap beserta Nabi dan menjadi ketua jama’ah ahlus suffah. Karena inilah beliau mendengar hadist dari Nabi.
Menurut penahqikan bagi ibnu Makhlad, oleh ibnu dausi. Beliau meriwayatkan hadist sejumlah 5374 hadist, dari jumlah tersebut 325 hadist disepakati oleh Bukhari dan Muslim. Bukhari sendiri meriwayatkan 93 hadist dan Muslim sejumlah 189 hadist. Sanad yang paling sahih yang berpangkal darinya adalah: Ibnu Syihab Az- zuhri, dari Sa’id bin al- musayyab, darinya (dari Abu Hurairah) adapun yang paling dla’if adalah As-Sari bin Sulaiman, dari Dawud bin Yazid al- Audi dari bapaknya (Yazid al-Audi) dari Abu Hurairah.
Abu hurairah meriwayatkan hadist dari Nabi sendiri dan dari sahabi, diantaranya adalah Abu Bakar, Umar, al- Fadlel, ibnu Abas, ibnu Abdul mutolib, Ubai ibnu Kaab Usamah ibnu Zaid dan Aisyah. Hadist- hadistnya banyak diriwayatkan oleh sahabat dan tabi’in. diantara para sahabat adalah Ibnu Abas, ibnu Umar, Anas Warsilah, ibnu Asqa’, Zabir ibnu Abdullah, al-Anshary. Diantara para tabi’in besar adalah Marwa ibnu al-Hakam, Said ibnu al Musaiyab, Urwah ibnu Zubair, Sulaiman al Asyja’y al aghr, Abu Muslim, dan masih banyak tabiin lainnya. Al-Bukhari mengatakan bahwa hadist Abu Hurairah diriwayatkan oleh 800 orang lebih. Kata imam Safi’i r.a bahwa Abu Hurairah adalah orang yang paling hafizh diantara orang yang meriwayatkan hadist Nabi di masanya. Adakah sejarah Abu Hurairah diungkapkannya:
“Ya Rosullulah saya mendengar dari tuan banyak hadist, tetapi saya banyak lupa, lalu Rosullullah mendoakan dengan isyaratnya lalu Rosullulah menjiduk dengan kedua tangannya, dan bersabda ikatlah! Kemudian abu hurairah mengikatnya. Sejak itu saya tidak lupa sedikut pun.”
Inilah Abu Hurairuh seorang sahabat agung yang banyak meriwayatkan hadist Rasullulah, tidak pernah mendustakan Rosullulah Shallallahu alahi wa sallam . Maka ikutilah Abu Hurairah dan jangan anda dengar orang yang memiliki keinginan untuk mencemoohkan Abu Hurairah.
Abu Hurairah lahir pada tahun 21 sebelum Hijriyah. pada masa Jahiliyah, sebelum ia msuk Islam, namanya Abu Syamsi. ia Masuk Islam pada tahun ke-7 Hijriyah, ketika perang Khaibar sedang berkecamuk. Abu hurairah langsung terjun ke dalam perang tersebut. setelah ia msuk Islam, Nabi shallallahu alaihi wa sallam memberinya nama Abdurahman.
Abu Hurairah sangat menyenangi seekor kucing, sehingga sering kucing itu digendong, dirawat, diberi makan dan bagi kucing itu disediakan tempat khusus. maka beliau digelari pula dengan Abu Hurairah, yang artinya orang yang menyanyangi kucing. Nama lengkap Beliau adalah Abu Hurairah bin Shakhkhar. Ibunya adalah Maimunah, yang sempat masuk Islam sebelum wafatnya.
Abu Hurairah adalah seorang di antara Muhajirin yang miskin, Ia termasuk salah seorang Ahlush Shuffah, yaitu sahabat yang tinggal di Madinah. Beliau tidak punya rumah untuk tinggal, tidak punya tanah untuk bercocok tanam, tidak punya barang dagangan untuk dijual. walaupun demikian beliau tegar dalam menghadapi hudup dan sanggup menerima Shallallahu alahi wa sallam  secara baik bahkan beliau orang yang paling banyak menghafal dan meriwayatkan hadits-hadits Nabi Shallallahu alahi wa sallam  daripada sahabat-sahabat Nabi yang lain. Para Perawi hadits banyak meriwayatkan hadits dari beliau.
Iman Syafi’i pernah berkata: “Abu Hurairah adalah orang yang paling banyak menghafal hadits bila dibandingi dengan perawi-perawi di masanya.”
Abu Hurairah adalah seorang ahli ibadah, begitu juga istri dan anaknya. Mereka semua biasa bangun pada malam hari secara bergiliran. Beliau bangun pada sepertiga malam kedua dan kemudian anaknay pada seprtiga malam terakhirnya.
Pada masa Khalifah Umar bin Khatab beliau pernah diangkat menjadi gubernur Bahrain. Beliau wafat pada tahun ke-59 Hijriyah dalam usia 78 tahun.
b.      Abdulah Bin Mas’ud
Nama lengkapnya adalah Abdulah bin Mas’ud bin Ghafil bin Hamid al-Hadzaly, tetapi terkenal dengan Ibnu Mas’ud saja.
Beliau termasuk sahabat yang tertua dan utama orang keenam masuk Islam dan sangat dekat dengan Rasullulah SAW. Pada masa remaja beliau pernah bekerja sebagai pengembala kambing milik ‘Uqbah bin Mu’ith. Pada waktu itulah Nabi SAW. berkata kepadanya: “Engkau akan menjadi orang terpelajar.
Beliau hidup miskin, tak punya harta benda, badanya kecil dan kurus, serta tidak berpangkat; kedudukan dan keduniannya jauh berada di bawah. Sebelum masuk Islam beliau sangat takut berjalan dihadapan pemimpin Quarisy. Tetapi setelah masuk Islam beliau sengaja tanpa rasa takut berjalan di hadapan pemuka-pemuka Quarisy Yang berada di samping Ka’bah, dan mengumandangkan wahyu Ilahi (ayat-ayat Al-Qur’an) di hadapan Mereka.
Kelebihan-kelebihan Abdullah bin Mas’ud diantaranya adalah beliau Hafal Al-Qur’an 30 juz,
 Ahli mengenai arti dan makna Al-Qur’an,Luas Ilmunya tentang fiqh,Telah mendapat izin dari Rasulullah Shallallahu alahi wa sallam  untuk memasuki rumah beliau, siang ataupun malam, Kuat Ibadah dan penuh taqwa,Tidak suka memburu pangkat, mengejar kedudukan, serta memperbutkan kekuasaan dan kekayaanya dan beliau merupakan orang pertama yang mengumandangkan ayat Al-Qur’an didepan masyarakat Mekkah.
Pada masa Khalifah Umar beliau diangkat menjadi Qadhi(hakim) dan ketua Bait Al-Maal(bagian perbendaharaan kaum muslimin) di kufah. banyak merwayatkan hadits dalam kitab hadits Bukhari dan Muslimin serta kitab-kitab lainya. Beliau wafat di Madinah pada tahun 32 H dan dimakamkan di pekuburan Baqi.
C.     Keutamaan mengajar/ orang yang berilmu

مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَىْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ

“Barangsiapa menjadi pelopor suatu amalan kebaikan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya ganjaran semisal ganjaran orang yang mengikutinya dan sedikitpun tidak akan mengurangi ganjaran yang mereka peroleh. Sebaliknya, barangsiapa menjadi pelopor suatu amalan kejelekan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya dosa semisal dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosanya sedikit pun.” (HR. Muslim no. 1017)[9]
Kandungan hadis:
·         Ia akan mendapatkan pahala semisal pahala orang yang ia ajarkan.
·         Orang yang mengajarkan ilmu berarti telah melakukan amar ma’ruf nahi munkar, demi baiknya tatanan masyarakat lewat saling menasehati.
·         Termasuk bentuk saling tolong menolong dalam kebaikan dan takwa.
·         Akan membimbing dan mewujudkan kehidupan bahagia pada tiap individu masyarakat dengan adanya adab dan hukum Islam yang tersebar.[10]


D.    Urgensi ilmu
1.      Hadis urgensi ilmu

عن عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنه يقل : سمعت رسول الله صلّى الله عليه وسلّم يقول : إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمِ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ النَّاسِ , وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاء , حَتَّى إِذَا لَمْ يَتْرُكْ عَالِمًا , اِتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًاجُهَّالاً , فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ , فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

Dari Abdullah bin Amru bin Al-Ash Radhiyallahu’anhu, dia berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya Allah tidak mengangkat ilmu dengan cara mencabutnya langsung dari (dada) manusia. Akan tetapi diangkatnya ilmu dengan cara mewafatkan para Ulama. Sehingga apabila tidak tersisa lagi orang alim (ulama), maka manusia akan menjadikan orang – orang                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              bodoh menjadi pemimpin (ulama) mereka. Ketika mereka (orang bodoh yang diangkat menjadi ulama) ditanya, maka mereka berfatwa tanpa ilmu sehingga mereka sesat dan menyesatkan.”[11]
Penjelasan :
 Al-Bukhari menyebutkan bagaimana ilmu di cabut.
Umar bin Abdul Aziz mengirim surat kepada Abu Bakar bin Hazm;”Carilah hadis-hadis Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, Lalu tulislah karena akau khawatir ilmu akan menghilang dan ulama akan le nyap. Dan janganlah engkau menerima selain hadis Rasululullah shallallahu alaihi wa sallam. Hendaklah mereka (ulama) menyebarkan ilmu dan duduk untuk mengajari orang yang tidak tahu, karena ilmu tidak akan binasa hingga ia disembunyikan.”Al-Bukhari selanjutnya menyebutkan hadis di atas.
Al-Hafiz menjelaskan,”Hadis ini mendorong untuk menghafalkan ilmu dan larangan mengangkat orang-orang bodoh menjadi pemimpin.”
Hadis ini menunjukkan bahwa fatwa adalah kepemimpinan hakiki, dan juga celaan orang yang memberi fatwa tanpa ilmu.
Al-Bukhari juga menyebutkan; bab diangkatnya ilmu dan mneyebarnya kebodohan. Rabi’ah berkata,”tidak patut bagi siapapun yang memiliki suatu ilmu untuk menyia-nyakan dirinya.”Al-Bukhari selanjutnya menyebutkan hadis Anas; Ia berkata,Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,’Sungguh, di antara tanda-tanda kiamat adalah ilmu di angkat, kebodohan bertahan, khamar di minum dan perzinahan tampak terang-terangan.’
Al-Hafiz menjelaskan,”Maksud perkataan Rabi’ah adalah siaoa memiliki pemahaman dan keahlian unuk belajar dan mengajarkan ilmu maka tidak sepatutnya membiarkan diri(menganggur) dan tdak mengajarkan ilmu. Yang demikian itu agar tidak menyebabkan di cabutnya ilmu.
Atau yang di maksud adalah dorongan untuk menyebarkan ilmu pada ahlinya agar seseorang alim tidak meninggal dunia sebelum itu, agar hal itu tidak menyebabkan tercabutnya ilmu.
Atau yang dimaksud adalah seorang alim seyogyanya memperkenalkan diri agar orang-orang menimba ilmu darinya, agar ilmunya tidak hilang.
Ada juga yang mengatakan, maksudnya adalah mengagungksn dan menghormati ilmu. Dengan begitu, seorang alim tidak merendahkan diri dengan menjadikan ilmu sebagai sarana untuk meraih dunia.
E.     Larangan menyembunyikan ilmu

ءن أبي هريرة, قال: قال رسو ل الله صل الله ءليه و سلم مَنْ سُئِلَ ءَنْ ءِلْمٍ فَكَتَمَهُ, الجَمَهُ الله بِلِجاَمٍ مِنْ نَا رٍ يَوْمَلْقِيَامَه
Dari Abu Hurairah, dia berkata:Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang di tanya tentang suatu ilmu lalu dia menyembunyikanya, maka Allah akan mencambuknya dengan cambuk dari api neraka pada hari kiamat.”[12]
Penjelasan :
Ø  Asy-Syaikh Ahmad Syaakir rahimahullah berkata :
 “Ini merupakan peringatan yang keras bagi orang yang menyembunyikan apa saja yang diturunkan dengannya para Rasul, berupa ajaran dan petunjuk yang bermanfaat bagi hati, setelah Allah ta’ala terangkan kepada hamba-hamba-Nya sebagaimana tercantum dalam kitab-kitab yang diturunkan kepada para rasul-Nya.  Abul-‘Aaliyyah berkata : ‘Ayat ini diturunkan kepada Ahli Kitab yang menyembunyikan sifat Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Allah pun mengkhabarkan bahwasanya mereka dilaknat oleh segala sesuatu atas perbuatan yang mereka lakukan. Sebagaimana para ulama dimintakan ampun oleh segala sesuatu termasuk ikan yang di air dan burung yang terbang di udara; maka keadaan mereka kebalikan dari para ulama tersebut – yang Allah melaknatnya dan segala sesuatu yang bisa melaknat pun melaknatnya…… Dan dalam ayat ini juga diterangkan bahwasannya orang yang menyembunyikan ilmu akan dilaknat oleh Allah, para malaikat, dan seluruh manusia. Kemudian Allah ta’ala mengecualikan dari mereka siapa saja yang bertaubat kepada-Nya. Allah berfirman : ‘kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran)’ ; yaitu mereka kembali pada kebenaran, memperbaiki amal-amal mereka, serta menerangkan kepada manusia tentang apa yang telah mereka sembunyikan sebelumnya. Firman Allah : ‘maka terhadap mereka itu Aku menerima taubatnya dan Akulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang’ – dalam ayat ini terdapat pentunjuk bahwa orang yang mengajak pada kekufuran dan kebid’ahan apabila bertaubat kepada Allah, maka Dia akan menerima taubatnya.[13]
Dari Abu Hurairah, ia berkata : “Orang-orang berkata : ‘Abu Hurairah terlalu banyak meriwayatkan hadits’. Jika saja bukan karena dua ayat dalam Kitabullah, niscaya aku tidak akan meriwayatkan hadits”. Kemudian ia (Abu Hurairah) membaca firman Allah : ‘Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati, kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itu Aku menerima tobatnya dan Akulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang’ (QS. Al-Baqarah : 159-160)…..” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 118].
Ø  Al-Haafidh Ibnu Hajar rahimahullah saat mengomentari hadits di atas berkata:
 “Dan makna dari perkataan ‘jika saja bukan karena dua ayat’ adalah : Jikalau bukan karena Allah mencela orang-orang yang menyembunyikan ilmu, aku tidak akan meriwayatkan hadits sama sekali. Namun karena menyembunyikan ilmu itu adalah diharamkan dan harus disampaikan, maka ia pun banyak meriwayatkan karena banyak hadits yang ia miliki”[14]
Ø  Al-Munawiy rahimahullah berkata :
“Hadits tersebut berisi sanksi hukum atas sebuah dosa, karena Allah subhaanahu wa ta’ala telah mengambil perjanjian terhadap kaum yang diberikan Al-Kitab (Ahli Kitab) agar menerangkannya kepada manusia dan tidak menyembunyikannya. Padanya juga terdapat anjuran untuk mengajarkan ilmu, sebab menuntut ilmu bertujuan untuk menyebarkannya dan mengajak manusia kepada kebenaran. Adapun orang yang menyembunyikan ilmu pada hakekatnya telah membatalkan hikmah ini. Ia sangat jauh dari sifat bijaksana dan mutqin (kokoh dalam ilmu). Oleh karena itu, balasan baginya adalah dikekang sebagaimana hewan kekangan yang dipaksa dan dicegah dari apa yang dikehendakinya. Sesungguhnya kedudukan seorang ‘aalim (ulama) adalah mengajak manusia kepada kebenaran dan membimbing mereka kepada jalan yang lurus”.[15]
Ø  Al-Khaththaabiy rahimahullah berkata :
 “Ini berlaku pada ilmu yang harus diajarkan kepada orang lain yang hukumnya fardlu ‘ain. Seperti halnya seorang yang melihat orang kafir yang ingin masuk Islam dan berkata : ‘Ajarkanlah aku, apa itu Islam ?’. Juga seperti orang yang baru saja masuk Islam yang tidak bagus shalatnya. Saat waktu shalat tiba, ia berkata : ‘Ajarkanlah aku, bagaimana aku melakukan shalat’. Juga seperti seseorang yang datang meminta fatwa dalam perkara halal dan haram. Ia berkata : ‘Berikanlah aku fatwa dan bimbinglah aku’. Barangsiapa yang menemui perkara-perkara seperti ini, hendaklah ia tidak menahan jawaban. Barangsiapa yang menahan jawaban, maka ia berdosa dan layak mendapatkan ancaman. Namun tidak demikian halnya dalam perkara ilmu yang disunnahkan dimana manusia tidak wajib mengetahuinya (yaitu tidak wajib memberi jawaban).[16]
Ø  Asy-Syaikh Ahmad Syaakir rahimahullah berkata :
 “Menyampaikan ilmu adalah wajib, tidak diperbolehkan untuk menyembunyikannya. Akan tetapi hal itu dikhususkan bagi ahlinya (benar-benar menguasainya), dan diperbolehkan orang yang belum menguasai atau sering keliru untuk menyembunyikannya.
Sebagian ulama pernah ditanya tentang satu perkara ilmu, namun ia tidak menjawabnya. Maka orang yang bertanya itu berkata : ‘Bukankah engkau telah mendengar hadits : ‘Barangsiapa yang mengetahui satu ilmu namun menyembunyikannya, niscaya ia akan diikat dengan tali kekang dari api neraka di hari kiamat kelak’ ?’. Maka ulama tersebut menjawab : ‘Tinggalkanlah tali kekang dan pergilah !. Apabila ada orang yang mengetahui ilmu ini dan kemudian aku menyembunyikannya, maka ikatlah aku dengan tali kekang ini.[17]












BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Secara bahasa العلم (al-ilmu) adalah lawan dari الجهل (al-jahl atau kebodohan, yaitu mengetahui sesuatu sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, dengan pengetahuan yang pasti.
Ilmu adalah pengetahuan yang sudah dikelompokkan, disistematisasi, dan diinterpretasikan sehingga menghasilkan suatu kebenaran objektif serta sudah diuji kebenarannya secara ilmiah.
Adapun keutamaan menuntut ilmu adalah sebagaimana yang di jelaskan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud :
 “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. berkata kepadaku ‘Tuntutlah ilmu pengetahuan dan ajarkanlah kepada orang lain. Tuntutlah ilmu kewarisan dan ajarkanlah kepada orang lain. Pelajarilah Alquran dan ajarkanlah kepada orang lain. Saya ini akan mati. Ilmu akan berkurang dan cobaan akan semakin banyak, sehingga terjadi perbedaan pendapat antara dua orang tentang suatu kewajiban,  mereka tidak menemukan seorang pun yang dapat menyelesaikannya.
Allah memberikan kepada para pencari ilmu melebihi keutamaan yang diberikan kepada para ahli ibadah, ibarat cahaya bulan purnama yang mampu mengalahkan cahaya seluruh bintang.
Orang yang mengajarkan ilmu kepada orang lain maka ia akan mendapatkan pahala semisal pahala orang yang ia ajarkan dan juga Orang yang mengajarkan ilmu berarti telah melakukan amar ma’ruf nahi munkar, demi baiknya tatanan masyarakat lewat saling menasehati.


DAFTAR PUSTAKA

Abdul Qadir Jawas bin Yazid , 2007,Menuntut imu jalan menuju surga,Bogo:Pustaka At-Taqwa
http://www.pengertianahli.com. Di akses tanggal 19 februari 2018
Al-Daruquthni Sunan, 1966,Ad-Daruquthni  juz 9, Beirut: Dar al-Makrifah
 An-Nawawi,terj.Abdul Aziz bin Faisal, 2017,Riyadhus Shalihin dan penjelasanya,Jakarta:Ummul Qura
Al Fauzan Abdullah, 1432 H,Minhatul ‘Allam fii Syarh Bulughil Marom, Dar Ibnul Jauzi
Nashiruddin Muhammad Al-Albani, 2006,Shahih Sunan Abu Dawud,Jakarta:Pustaka Azzam





[1] Yazid bin Abdul Qadir Jawas,Menuntut imu jalan menuju surga,(Bogor,Pustaka At-Taqwa,2007),hlm.15
[2] http://www.pengertianahli.com. Di akses tanggal 19 februari 2018
[3] Al-Imam Abi Muhammad Abdullah ibn Bahram Al-Darimi (selanjutnya disebut Al-Darimiy), Sunan ad-Darimi, jilid 1, (Beirut: Dar al-Fikr, t.th.), h. 252. Hadis dengan maksud yang sama juga diriwayatkan  Ad-Daruqutni dari Abi Sa’id. Lihat, Ali ibn Umar Abu al-Hasan ad-Daruquthni al-Baghdadi (selanjutnya disebut Al-Daruqutni), Sunan Al-Daruquthni,  juz 9, (Beirut: Dar al-Makrifah, 1386 = 1966), h. 421 dan Baihaqi dari Abdullah. Lihat, Abu Bakr Ahmad ibn al-Husain al-Bayhaqi, (slanjutnya disebut al-Bayhaqi Sya'b)  Sya’b al-Iman, Juz 2, (Beirut: Dar –Kutub al-‘Ilmiyah, 1410) cet. ke-1 h. 253
[4] Biografi Ibn Mas’ud dalam Al-Ishabah: Ibn Hajar Asqalani no.4945
[5] Lihat, Al-Mala ‘ala al-Qari’, Mirqat al-Mafatih Syarh misykat al-Mashabih, juz 2, h. 199, dalam al-Maktabah al-Syamilah bagian kitab-kitab syarah
[6] Imam An-Nawawi,Riyadhus Shalihin dan penjelasanya,(Jakarta:Ummul Qura,2017),hlm.804
[7] Imam An-Nawawi,Riyadhus Shalihin dan penjelasanya,(Jakarta:Ummul Qura,2017),hlm.807
[8] Imam An-Nawawi,Riyadhus Shalihin dan penjelasanya,(Jakarta:Ummul Qura,2017),hlm.806
[9] Minhatul ‘Allam fii Syarh Bulughil Marom, Syaikh ‘Abdullah Al Fauzan, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1432 H, 10: 129-130.
[11] Imam An-Nawawi,Riyadhus Shalihin dan penjelasanya,(Jakarta:Ummul Qura,2017),hlm.809
[12] Muhammad Nashiruddin Al-Albani,Shahih Sunan Abu Dawud,(Jakarta:Pustaka Azzam,2006),hlm.660
[13] Umdatut-Tafsiir, 1/279-280
[14] Fathul-Baariy, 1/214
[15] Faidlul-Qadiir, no. 8732
[16] Syarhus-Sunnah oleh Al-Baghawiy, 1/302, tahqiq Syu’aib Al-Arna’uth & Muhammad Zuhair Syaawisy; Al-Maktab Al-Islaamiy, Cet. 2/1403 H
[17] Al-Ba’iitsul-Hatsiits, hal. 440, ta’liq : Al-Albaaniy; Maktabah Al-Ma’aarif, Cet. 1/1417

Komentar

Postingan populer dari blog ini

contoh makalah meneladani sifat terpuji abdurrahman bin auf dan abu dzar al ghifari

Makalah Mu'tazillah lengkap footnote

PERBEDAAN MORAL, AKHLAK, DAN ETIKA (MAKALAH AKHLAK TASAWUF)